Paskah

pdp Aruna Wirjolukito

Keluaran 12:1-11 semua peristiwa yang terjadi pada zaman Perjanjian Lama, dirancang Tuhan untuk digenapi pada zaman Perjanjian Baru. Kitab Keluaran dalam bahasa Ibrani, Šemot (שמות), berarti keluar, lepas, bebas, merdeka. Sebagai anak-anak Tuhan, kita memang tinggal di Indonesia sebagai warga negara Indonesia, namun dalam keseharian, kita hidup menurut hukum Surga. Untuk mengikut Tuhan, kita harus buru-buru, bukan berlambat-lambat. Segala hal yang dikerjakan berlambat-lambat, tidak pernah akan berhasil.

Asal muasal Paskah – Urutan anak-anak Nuh, yaitu Yafet, Sem, dan Ham. Ketika Nuh mabuk dan telanjang, Ham menertawakan ayahnya, sedangkan Yafet dan Sem lekas mengambil kain untuk menutupi ketelanjangan ayahnya. Tuhan berkenan pada keturunan Yafet (bangsa barat) dan Sem (bangsa Asia), Tuhan memberkati keturunan mereka. Namun, pada keturunan Ham (bangsa kulit hitam, orang-orang Afrika), Tuhan tidak berkenan dan mengutuk mereka. Dalam perjalanan hidupnya, Ham menikahi Semiramis dan melahirkan Kush. Setelah Ham meninggal, Kush menikahi Semiramis, ibunya sendiri, dan melahirkan Nimrod (Kejadian 10:8-10). Untuk menutupi aibnya, Semiramis menyebut Nimrod sebagai anak dari Dewi Ishtar (dewi kesuburan), yang lahir dari cangkang telur. Inilah asal muasal kata ‘easter’. Sebagai orang Kristen, kita tidak menyebut perayaan Paskah dengan ‘happy Easter’, tapi ‘happy Passover’ atau ‘happy Pesach’. Ada lima hal penting yang dapat kita pelajari mengenai perayaan Paskah, diantaranya:

  1. Darah (blood). Darah dicurahkan dan dibubuhkan keambang pintu (Keluaran 12:7). Tanpa pencurahan darah, tidak ada pengampunan dosa. Di Bukit Golgota, Daud menanam kepala Goliat. Yesus, yang adalah keturunan Daud menginjak makam Goliat di Bukit Golgota untuk kedua kalinya ketika Dia mengalahkan maut diatas kayu salib. Sebagai anak-anak Tuhan, kita diberi Tuhan kesempatan menginjak Goliat untuk ketiga kalinya. Hidup kita dijamin oleh darah Yesus, supaya setiap kuasa gelap tidak dapat menguasai hidup kita.
  2. Domba panggang, yang dihancurkan, dirusak sampai habis, domba jantan yang tak bercela (lambang pribadi Tuhan – Keluaran 12:4). Segala sesuatu yang sulung (yang pertama) itu penting, harus benar, dan diberikan yang terbaik bagi Tuhan. Domba panggang berbicara mengenai pengorbanan.
  3. Roti yang dipecahkan. Tuhan mengorbankan diri-Nya diatas kayu salib untuk menjamin hidup kita setiap hari senantiasa dapat menggenggam ‘roti’ (tidak akan kelaparan dan berkekurangan). Kita mempunyai ‘roti hidup’ yang memberi kita jaminan hidup dimasa depan. Jika kita makan dari ‘roti hidup’, maka hidup kita akan dijamin Tuhan seumur hidup. Roti tak beragi merupakan lambang kehidupan yang Tuhan berikan. Tuhan menghendaki kita bekerja dengan sukacita, bukan kerja dengan terpaksa (ciri kehidupan di Mesir).
  4. Empat cawan anggur (Keluaran 6:6-7). Anggur itu: (1) menguduskan, memisahkan, hidup kita dibuat berbeda dengan hidup dunia; (2) melepaskan, pembebasan, tangan orang dunia tidak dapat menyentuh kehidupan kita, artinya ketika penghakiman atas dunia turun, maka penghakiman itu tidak akan menimpa kita; (3) menebus. Goncangan-goncangan yang terjadi merupakan rencana Tuhan yang ajaib bagi kita, bukan simbol penghukuman seperti yang dialami orang dunia. Kita sama sekali tidak berhutang pada dunia ini; (4) penerimaan.
  5. Sayur pahit dihantamkan pada pinggan berisi air asin, merupakan lambang Tuhan yang membelah laut merah (berbicara mengenai terbelahnya jalan untuk keselamatan) dan menghalau seluruh pasukan Firaun. Tuhan menganugerahi kita jalan keselamatan, Dia mencabut segala sumbat rohani – sumbat yang menghalangi kesehatan dan usaha untuk kita lebih dekat dengan Tuhan.

Menghadapi Krisis Ekonomi Global di Tahun Double Sabbath

pdp Aruna Wirjolukito

Banyak orang beranggapan bahwa mujizat berbicara mengenai kesembuhan dari sakit penyakit, pemulihan dari masalah dan pergumulan. Kata ‘mujizat’ tidak hanya berbicara mengenai sesuatu yang positif secara tubuh, tapi juga berbicara mengenai sesuatu yang negatif secara tubuh. Statistik mencatat peluang terjadinya krisis ekonomi global setelah Perang Dunia pada bulan September-Oktober (Tishri) ditahun Sabat sebesar 87,5%, sedangkan peluang terjadinya krisis ekonomi global setelah Perang Dunia pada bulan September-Oktober (Tishri) ditahun Sabat dan dimalam Tahun Baru Bangsa Yahudi sebesar 100%. Tahun Sabat (shemitah) adalah bilangan tahun yang habis dibagi angka tujuh. Firman Tuhan berkata, kuduskanlah hari ketujuh, artinya segala kegiatan kita dihari yang ketujuh tidak boleh sama dengan hari pertama hingga hari keenam. Kata ‘dikuduskan’ berarti dipisahkan, bukan dibersihkan. Tahun 2015 adalah Tahun Pelipatgandaan Mujizat, tahun double sabbath(tahun yang ketujuh pada kelipatan yang ketujuh). Krisis ekonomi global banyak terjadi dibulan September-Oktober (Tishri). Terjadinya krisis ekonomi global dihitung setiap tujuh tahun mulai tahun 1917, 1924, 1931, 1938, 1945, 1952, 1959, 1966, 1973, 1980, 1987, 1994, 2001, 2008, dan 2015. Tahun 1966 dan 2015 merupakan tahun double sabbath. Pelipatgandaan mujizat merupakan suatu peristiwa yang mencengangkan dan jarang terjadi. Pelipatgandaan mujizat selalu disertai dengan pelipatgandaan goncangan (Yoel 2:30-31). Kata ‘darah’ berbicara mengenai aniaya. Kata ‘gumpalan-gumpalan asap’ berbicara mengenai peperangan.

Dalam Imamat 25:1-7, kata ‘Sinai’ berarti tempat yang ditunjuk (the pointed one). Tuhan rindu memberi kita kelimpahan pada tahun ini. Tahun Sabat bagi orang Yahudi berarti mereka tidak boleh menabur (berbicara mengenai financial investment), tidak boleh merantingi (memotong ranting-ranting yang daun dan buahnya membusuk, berbicara mengenai no cost cutting), harus membiarkan ranting pohon menjuntai (no insurance), tidak boleh melindungi nilai, tidak memiliki opsi, tidak boleh mengambil keuntungan, tidak boleh memetik (bagi hasil, berbicara mengenai no deviden), tidak boleh membuka tanah yang baru. Orang Yahudi merupakan penguasa keuangan dunia. Apa yang akan terjadi apabila seluruh orang Yahudi sepakat melakukan peraturan di atas? Perekonomian dunia akan stagnan; hal ini akan terjadi setiap 7 tahun sekali. Namun meskipun peraturan tersebut telah ditetapkan untuk orang Yahudi, tidak semua orang Yahudi melakukan ketentuan sabat itu. Akibat pelanggaran mereka, Tuhan menghukum orang Yahudi seperti ditulis dalam 2 Tawarikh 36:21. Hukuman yang Tuhan berikan sesuai lamanya waktu pelanggaran yang orang Yahudi lakukan. Meskipun ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan orang Yahudi ditahun Sabat, namun usaha beternak, mengambil ikan, dan memerah buah zaitun tidak dilarang ditahun Sabat.

Ternak dipakai orang Yahudi sebagai persembahan untuk pengampunan dosa. Tuhan berfirman, selama tahun Sabat, kita harus menambahkan doa, pujian, dan penyembahan pada Tuhan. Kita beribadah kepada Tuhan bukan setiap hari Minggu saja, karena kita beribadah kepada-Nya setiap hari. Ikan berbicara mengenai jiwa-jiwa. Tuhan berfirman, selama tahun Sabat, kita harus menuai jiwa. Minyak berbicara mengenai pengurapan. Mari kita melihat krisis dari kacamata Tuhan, bukan dari kacamata dunia. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk sebuah berkat, diantaranya:

  1. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk memurnikan bisnis kita (pemurnian). Tanpa kita sadari, ada praktek ‘hitam’ yang mungkin terjadi dalam bisnis yang kita lakukan. Krisis seringkali berdampak dengan adanya sesuatu bagian yang hilang. Melalui krisis, Tuhan sedang membuang, memurnikan, dan membawa keluar segala hal yang bukan berasal dari Tuhan. Tidak semua krisis itu sifatnya ‘membunuh’ kita.
  2. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk menjadi penyeimbang (balancing), supaya tidak ada lagi yang terlalu berkelebihan dan berkekurangan.
  3. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk kita senantiasa berharap pada Tuhan. Mintalah apa saja pada Tuhan (Yohanes 16:24) asalkan permintaan itu membuat kita bersukacita (Amsal 10:22).