Menghadapi Krisis Ekonomi Global di Tahun Double Sabbath

pdp Aruna Wirjolukito

Banyak orang beranggapan bahwa mujizat berbicara mengenai kesembuhan dari sakit penyakit, pemulihan dari masalah dan pergumulan. Kata ‘mujizat’ tidak hanya berbicara mengenai sesuatu yang positif secara tubuh, tapi juga berbicara mengenai sesuatu yang negatif secara tubuh. Statistik mencatat peluang terjadinya krisis ekonomi global setelah Perang Dunia pada bulan September-Oktober (Tishri) ditahun Sabat sebesar 87,5%, sedangkan peluang terjadinya krisis ekonomi global setelah Perang Dunia pada bulan September-Oktober (Tishri) ditahun Sabat dan dimalam Tahun Baru Bangsa Yahudi sebesar 100%. Tahun Sabat (shemitah) adalah bilangan tahun yang habis dibagi angka tujuh. Firman Tuhan berkata, kuduskanlah hari ketujuh, artinya segala kegiatan kita dihari yang ketujuh tidak boleh sama dengan hari pertama hingga hari keenam. Kata ‘dikuduskan’ berarti dipisahkan, bukan dibersihkan. Tahun 2015 adalah Tahun Pelipatgandaan Mujizat, tahun double sabbath(tahun yang ketujuh pada kelipatan yang ketujuh). Krisis ekonomi global banyak terjadi dibulan September-Oktober (Tishri). Terjadinya krisis ekonomi global dihitung setiap tujuh tahun mulai tahun 1917, 1924, 1931, 1938, 1945, 1952, 1959, 1966, 1973, 1980, 1987, 1994, 2001, 2008, dan 2015. Tahun 1966 dan 2015 merupakan tahun double sabbath. Pelipatgandaan mujizat merupakan suatu peristiwa yang mencengangkan dan jarang terjadi. Pelipatgandaan mujizat selalu disertai dengan pelipatgandaan goncangan (Yoel 2:30-31). Kata ‘darah’ berbicara mengenai aniaya. Kata ‘gumpalan-gumpalan asap’ berbicara mengenai peperangan.

Dalam Imamat 25:1-7, kata ‘Sinai’ berarti tempat yang ditunjuk (the pointed one). Tuhan rindu memberi kita kelimpahan pada tahun ini. Tahun Sabat bagi orang Yahudi berarti mereka tidak boleh menabur (berbicara mengenai financial investment), tidak boleh merantingi (memotong ranting-ranting yang daun dan buahnya membusuk, berbicara mengenai no cost cutting), harus membiarkan ranting pohon menjuntai (no insurance), tidak boleh melindungi nilai, tidak memiliki opsi, tidak boleh mengambil keuntungan, tidak boleh memetik (bagi hasil, berbicara mengenai no deviden), tidak boleh membuka tanah yang baru. Orang Yahudi merupakan penguasa keuangan dunia. Apa yang akan terjadi apabila seluruh orang Yahudi sepakat melakukan peraturan di atas? Perekonomian dunia akan stagnan; hal ini akan terjadi setiap 7 tahun sekali. Namun meskipun peraturan tersebut telah ditetapkan untuk orang Yahudi, tidak semua orang Yahudi melakukan ketentuan sabat itu. Akibat pelanggaran mereka, Tuhan menghukum orang Yahudi seperti ditulis dalam 2 Tawarikh 36:21. Hukuman yang Tuhan berikan sesuai lamanya waktu pelanggaran yang orang Yahudi lakukan. Meskipun ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan orang Yahudi ditahun Sabat, namun usaha beternak, mengambil ikan, dan memerah buah zaitun tidak dilarang ditahun Sabat.

Ternak dipakai orang Yahudi sebagai persembahan untuk pengampunan dosa. Tuhan berfirman, selama tahun Sabat, kita harus menambahkan doa, pujian, dan penyembahan pada Tuhan. Kita beribadah kepada Tuhan bukan setiap hari Minggu saja, karena kita beribadah kepada-Nya setiap hari. Ikan berbicara mengenai jiwa-jiwa. Tuhan berfirman, selama tahun Sabat, kita harus menuai jiwa. Minyak berbicara mengenai pengurapan. Mari kita melihat krisis dari kacamata Tuhan, bukan dari kacamata dunia. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk sebuah berkat, diantaranya:

  1. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk memurnikan bisnis kita (pemurnian). Tanpa kita sadari, ada praktek ‘hitam’ yang mungkin terjadi dalam bisnis yang kita lakukan. Krisis seringkali berdampak dengan adanya sesuatu bagian yang hilang. Melalui krisis, Tuhan sedang membuang, memurnikan, dan membawa keluar segala hal yang bukan berasal dari Tuhan. Tidak semua krisis itu sifatnya ‘membunuh’ kita.
  2. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk menjadi penyeimbang (balancing), supaya tidak ada lagi yang terlalu berkelebihan dan berkekurangan.
  3. Krisis diizinkan Tuhan terjadi untuk kita senantiasa berharap pada Tuhan. Mintalah apa saja pada Tuhan (Yohanes 16:24) asalkan permintaan itu membuat kita bersukacita (Amsal 10:22).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s