Pohon Badam

pdm Budi Muljono

“Sesudah itu firman Tuhan datang kepadaku, bunyinya: Apakah yang kaulihat, hai Yeremia? Jawabku: Aku melihat sebatang dahan pohon badam. Lalu firman Tuhan kepadaku: Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku.” (Yeremia 1:11-12)

Pohon badam (almond tree) adalah jenis pohon yang dapat tumbuh disemua musim; pohon yang berbunga lebih awal disaat pohon-pohon lain masih ‘tidur’ pada musimnya. Dalam bahasa Ibrani, kata ‘pohon badam’ disebut dengan kata shaqed (shaw-kade’), artinya yang berjaga, yang bangun. Kata tersebut memiliki makna yang serupa dengan kata ‘siap sedia’, dalam bahasa Ibrani disebut dengan kata shâqad (shaw-kad’). Sesuai tuntunan gembala pembina, kita harus senantiasa berjaga-jaga, karena kita tidak tau kapan waktunya Tuhan akan datang kembali (Roma 8:35-37; Matius 26:41). Dalam Hakim-Hakim 14:5-6; 15:15; 16:4, 16, 19, kita dapat menarik pembelajaran dari kegagalan Simson. Simson perkasa mengalahkan ribuan orang, namun pada akhirnya ia kalah oleh seorang wanita bernama Delila. Kekalahan Simson bukan karena serangan, tapi karena godaan atau pencobaan.

Bilangan 16:5 menceritakan tentang Korah yang memberontak kepada Musa. Dalam Bilangan 17:5, 7-8 Tuhan memilih seorang pemimpin melalui tongkat yang bertunas, mengeluarkan bunga, dan buah badam. Pohon badam adalah pohon yang berjaga-jaga. Kesimpulannya, orang yang berjaga-jaga dalam hidupnya adalah orang yang akan dipilih Tuhan. Kejadian 43:11 menceritakan tentang Yakub (Israel) yang mengalami musim kekeringan dan kelaparan di Israel selama tujuh tahun disaat Yusuf, anaknya, telah menjadi raja di Mesir. Untuk bertahan ditengah musim itu, Yakub harus mengutus anak-anaknya ke Mesir. Kesimpulannya, orang yang berjaga-jaga melakukan yang terbaik untuk dipersembahkan kepada Raja segala Raja. Bagaimana cara kita berjaga-jaga? (Mazmur 1:1-3; Keluaran 25:31-33) hidup kita harus selalu penuh dengan Roh Kudus.

Kebalikannya, orang yang tidak berjaga-jaga:

  1. memberi kesempatan pada iblis (Efesus 4:26-31). Tidak ada iblis yang baik. Memberi kesempatan pada iblis itu ketika kita menyimpan kemarahan (Efesus 4:26), mengucapkan perkataan kotor, sia-sia, atau kutuk (Efesus 4:29), mendukakan Roh Kudus karena kesombongan dan ketidakpercayaan (Efesus 4:30), dan kepahitan karena tidak mau mengampuni (Efesus 4:31).
  2. tidak menyadari bahaya yang mengancam, ia menganggap enteng atau menganggap terlalu kuat sehingga kalah sebelum berperang. Karena itu kita harus menyadari kelemahan atau ketidakmampuan diri sendiri dalam menghadapi serangan setan dan jangan hidup kita meleset dari tujuan dan kehendak Tuhan (Mazmur 19:13).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s