Berjaga-jagalah

ps David Tjakra Wisaksana

Tahun 2015 adalah Tahun Pelipatgandaan Mujizat. Mujizat hanya bekerja ketika kita menghadapi ‘jalan buntu’ (tidak ada jalan keluar), tapi selama kita masih mampu menyelesaikan tantangan dan permasalahan dengan kekuatan kita sendiri, maka kata ‘mujizat’ itu tidak berlaku. (Efesus 3:19b) Libatkanlah Roh Kudus dalam setiap kehidupan kita. Kata ‘kuasa’ (dunamis) berarti keperkasaan dan ketidakterbatasan. Baca dan hafalkan Mazmur 91 setiap hari. Dalam hal apa kita harus berjaga-jaga?

  1. (Matius 26:41) karena kedagingan kita lemah, maka kita harus waspada.
  2. (Matius 16:6) berhati-hatilah terhadap ragi orang Farisi dan ragi orang Saduki. Orang Farisi adalah orang yang dihormati, namun segala hal yang dilakukannya adalah suatu kemunafikan karena antara ucapan dan tindakan mereka bertolak belakang. Ragi Farisi berbicara mengenai roh kemunafikan; ragi Saduki berbicara mengenai roh tidak percaya (Yesaya 48:18). Dalam Lukas 18:8, ragi Saduki membuat kita bertindak lebih menggunakan logika, dalam hal ini keberadaan iman akan semakin langka. Taruhlah harapan kita kepada Tuhan dan janganlah mengandalkan logika kita. Iman dan ketaatan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan (Matius 8:10); beriman tidaknya kita, ditentukan oleh ketaatan kita. Mari lakukan, taat, dan percaya, meskipun kita belum mengerti dan memahami maksud dari perintah Tuhan bagi kita. Berjaga-jagalah terhadap bentuk pengajaran yang keliru, tidak ada pengajaran once saved always saved (sekali selamat tetap selamat), karena sekalipun Tuhan telah menganugerahkan keselamatan pada kita, kita harus tetap mengerjakan keselamatan itu. Perhatikan iman kita (Ibrani 11:1). Iman tidak berbicara tentang kemungkinan. Iman berbicara mengenai segala sesuatu yang sifatnya pasti. Menurut George Muller, “Iman adalah berakhirnya kemampuan manusia, sehingga kemampuan Allah yang bekerja.”
  3. (Wahyu 16:15) perhatikan pakaian kita (berbicara mengenai sifat dan perbuatan kita sehari-hari). Seluruh perjalanan hidup kita sebagai orang Kristen diperhitungkan sebagai bentuk ibadah (1 Korintus 10:6). Kita telah dibebaskan dari kutuk si jahat. Sifat (karakter) itu harus kita sendiri yang mengenakannya setiap hari (2 Petrus 1:4-11). (1 Korintus 1:30) ketika kita percaya, secara otomatis kita memperoleh keselamatan. Ada dua jenis pakaian yang merupakan simbol keselamatan: pakaian yang pertama adalah pakaian yang diberikan oleh Tuhan, yaitu pakaian keselamatan; pakaian kedua adalah pakaian pesta, yaitu pakaian yang harus kita kenakan. (Wahyu 19:8) kata ‘lenan halus’ berbicara mengenai perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus; kata ‘putih bersih’ berbicara mengenai sifat kita. Kita harus memasukkan unsur, pikiran dan perasaan Kristus, supaya sifat kita berubah. Dalam Roma 12:1-2, kata ‘berkilau-kilauan’ berbicara mengenai ekspresi kita. Persembahan persepuluhan merupakan bentuk ekspresi kita pada Tuhan. Baca mengenai pakaian subyektif (pakaian pesta) dalam Matius 22:11-14. (Efesus 3:17) iman dan kasih harus kita perhatikan. Besarnya kasih kita kepada Tuhan (vertikal), harus diekspresikan dengan kasih kita pada sesama (horizontal). Ada kasih secara vertikal dan horizontal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s