How Do We Respond When God Says No?

ps.Bobby Chaw

Kejadian 4:1-8 menceritakan kehidupan kakak adik, Kain dan Habel. Tuhan berjanji pada Hawa, bahwa dari rahimnya akan dilahirkan anak yang akan meremukkan kepala ular. Ketika Hawa melahirkan Kain, ia langsung teringat janji Tuhan dan ia mengira Kain adalah anak yang dijanjikan Tuhan. Ketika Habel lahir, Hawa menganggap anak keduanya itu tidaklah penting, karena Kain adalah anak sulung, kebanggaan keluarganya, dan sebagai anak sulung, Kain memiliki otoritas dan warisan porsi ganda. (Pengkhotbah 1:2) Habel dalam bahasa Ibrani artinya kosong, kehampaan, sia-sia. Habel menjadi anak yang tertolak dan terbuang dalam keluarganya. Habel seorang gembala, dan Kain seorang petani. Tuhan lebih mengindahkan korban persembahan Habel dan tidak menghiraukan persembahan Kain. Bagaimana kita merespon saat Tuhan menjawab ‘tidak’ pada kita? (Kejadian 4:5) Kain hatinya panas dan mukanya muram, ini kali pertama dalam Alkitab dicatat saat manusia marah karena persembahan. Bukankah kita seringkali merespon sama seperti Kain, ketika Tuhan berkata tidak pada kita, atau saat kita melihat orang lain dipromosikan dan diberkati secara berlimpah, kita menjadi marah pada Tuhan dan berpikir bahwa Tuhan tidak adil. Ketika kita sudah memberikan yang terbaik, namun kita bukannya semakin diberkati, melainkan menjadi terpuruk dan doa-doa kita sepertinya tidak dijawab Tuhan, apakah kita akan meresponnya dengan kemarahan dan geram pada Tuhan? Kita hidup dalam dunia yang tidak sempurna, ditengah orang-orang yang tidak sempurna. Kita akan kecewa jika kita mencari keadilan ditengah manusia. Kita harus mengatasi kemarahan dan kepahitan hati. Belajarlah menguasai perasaan kita.

(Kejadian 4:6-7) Ketika perasaan marah itu datang pada Kain, dosa sedang mengintip didepan pintu. Kain sebenarnya mempunyai pilihan untuk menutup pintu dosa dengan tidak membiarkan kemarahan menguasai dirinya. Perhatikan sikap hati Habel, antara Kain dengan Habel, siapakah yang seharusnya memiliki alasan kuat untuk marah? Setiap hari, Habel dilupakan dan semua yang terbaik hanya diberikan orangtuanya untuk Kain, tapi Habel merespon dengan sikap yang baik, ia tidak mengizinkan kemarahan menguasai dirinya, ia percaya bahwa upah yang didapatkannya berasal dari Tuhan, bukan dari manusia. Yang Tuhan inginkan bukanlah persembahan kita, tapi sikap hati kita. Bagaimana kita merespon saat Tuhan menjawab ‘tidak’ pada kita? Apakah kita akan bersikap seperti Kain yang marah atau seperti Habel yang tetap menaruh iman percayanya pada Tuhan, bahwa Dia akan memberikan yang terbaik? Percayalah bahwa Tuhan itu baik sepanjang waktu.

(1 Korintus 10:13) Tuhan itu setia, ketika cobaan itu menguasai kita, Tuhan tidak akan membiarkan cobaan itu melebihi kemampuan kita, bahkan Dia akan memampukan kita melampaui cobaan dan menjadikan kita sebagai seorang pemenang. Habel memiliki Roh yang berbeda dengan Kain, meskipun ia diperlakukan tidak adil sejak kecil, karena imannya bukan pada apa yang ia bisa lihat, tapi pada apa yang tidak bisa ia lihat. Jagalah hati kita, jangan biarkan kekecewaan dan kepahitan menguasai kita. (Ibrani 11:4) nama Habel tercatat dalam daftar pahlawan-pahlawan iman. Habel melakukan segalanya untuk Tuhan dan ia senantiasa bersyukur dalam segala hal. (Roma 9:14-16) untuk menjaga hati, kita harus mengerti siapakah Tuhan dan siapakah kita. Jangan pernah kita mengatur Tuhan kepada siapa Dia dapat menyatakan kasih-Nya. Tuhan adalah Tuhan, kita hanya bejana, dan Dia yang membentuknya. Kita tak punya kemampuan untuk menyelamatkan diri sendiri. Kasih karunia Tuhan membuat kita ada sebagaimana kita ada sekarang. Bersyukurlah sepanjang waktu (Roma 1:21) saat hati kita tidak bersyukur itu seperti racun, dan akan merusak seluruh kehidupan kita. Pembunuhan pertama terjadi didunia ini saat Habel dibunuh Kain mengenai persembahan. Jagalah hati kita dengan segala kerajinan dan penuh ucapan syukur. Jika respon kita benar, maka Tuhan pasti akan menerima persembahan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s