The True Worship

ps.Kong Hee (City Harvest Church Singapore)

Kita dapat menjadi bagian dalam suatu ibadah tradisional dengan musik yang biasa-biasa saja, tapi hadirat Allah begitu kuat dirasakan ditempat itu. Pada sisi lain, kita dapat menjadi bagian dalam suatu ibadah kontemporer modern dengan musisi paling terampil, menyanyikan lagu-lagu terbaru, menggunakan teknologi terbaru (TV, sound, dan lighting), tapi jemaatnya kaku, tidak ada pujian, tidak ada hadirat Allah. Kita tidak bisa mencampuradukkan ibadah yang luar biasa dengan penyembahan. Penyembahan merupakan ekspresi cinta. Worship is love responding to love. Penyembahan akan berubah karena budaya dan usia. Media mengalami perubahan seiring berjalannya waktu. Bagi Tuhan, bukan perkara bagaimana kita menyembah, tapi kepada siapa kita menyembah (Yohanes 4:23-24). Tuhan tidak mencari penyembahan, karena Dia memiliki malaikat di Surga yang menyembah-Nya 24 jam sehari dan 7 hari seminggu, bahkan untuk selama-lamanya. The heart of a worshiper doesn’t need music.

Penyembahan adalah cinta kita yang mengalir keluar tanpa syarat dan penuh gairah, seperti sepasang kekasih yang datang bersama-sama. Penyembahan berbicara mengenai keintiman pribadi. Ketika kita memiliki keintiman dengan Tuhan, itu merupakan pengalaman pribadi. Sound, lighting, dan musik adalah alat bantu untuk membantu kita menemukan keintiman pribadi dengan Tuhan, tapi tidak untuk menggantikan penyembahan itu sendiri (1 Korintus 6:16-17; Yohanes 4:23). Cintailah Tuhan dalam Roh, datanglah dengan ketulusan, keterbukaan, tak ada kepura-puraan. Dalam hal mencintai, tidak boleh ada rahasia. Tuhan akan menyatakan diri sepenuhnya pada kita. Tuhan bukan sekedar kasih, namun Dia adalah kasih itu sendiri. Ketika Dia mengasihi, Dia mengasihi dengan sepenuh hati, Dia tidak menyimpan rahasia. Ketika kita memahami bahwa penyembahan adalah kasih, maka kita memahami bahwa penyembahan merupakan sesuatu yang sangat mahal. Itu sebabnya Maria menyerahkan miliknya yang paling berharga untuk mencuci kaki Yesus. (Lukas 9:23-24) Kita dipanggil untuk memikul salib-Nya setiap hari. Salib berarti kita berbagi penderitaan dengan Tuhan. Salib berbicara mengenai cinta, ketaatan, dan penderitaan. Cinta itu menyakitkan. Mencintai berarti menderita. Jika kita tidak ingin menderita, maka kita seharusnya tidak memilih untuk mencintai.

(Lukas 9:57-58) Untuk mengikut Kristus, kita perlu memiliki sikap ini, ketika saya tidak dapat mengerti, saya menyerahkan hidup saya menurut jalan Tuhan. Jalan Tuhan lebih tinggi daripada jalan kita, pikiran Tuhan lebih tinggi daripada pikiran kita. Dalam Lukas 9:61-62, Yesus tau bahwa pria ini tak sekedar mengucapkan selamat tinggal, tapi dia terus-menerus melihat ke belakang; pola berpikirnya tidak mengarah kedepan. Jika kita tidak bisa menyerahkan keinginan kita kepada Tuhan, maka kita tidak pernah bisa mencintai-Nya. Cinta sejati adalah cinta yang sangat mahal. Menyerahkan diri kepada kehendak Allah itu sangat menyakitkan, karena kita harus mengesampingkan agenda pribadi kita dan ditolak dunia; akan ada peperangan rohani yang intens. Obedience to the point of suffering is excruciating. Penyembahan yang murni keluar dari suatu pencobaan, dari suatu penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s