Self-Control

ps.Leonardo A.Sjiamsuri

(2 Timotius 3:1-5) Salah satu penyebab manusia mengalami masa-masa yang sukar adalah mereka tidak memiliki pengendalian diri (tidak dapat mengekang diri). Pengendalian diri merupakan salah satu hal yang sangat penting didalam hubungan keluarga, pernikahan, persahabatan dan sebagainya. Pengendalian diri tidak dapat dinilai dari usia seseorang, tapi dari tingkat kedewasaannya. “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.” (Amsal 16:32) Sebagai orang Kristen, kita harus memiliki pengendalian diri terutama melalui mulut kita. Melalui mulut, kita dapat memperkatakan perkataan yang membangun, menguatkan, menghibur, memberkati, menyemangati, tapi melalui mulutpun seseorang dapat memperkatakan perkataan yang menjelekkan, merugikan, mengutuk, melemahkan, dan menjatuhkan. “Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.” (Amsal 25:28) Perkataan yang baik akan membuahkan hasil dan berkat Tuhan, tapi perkataan yang buruk akan mengakibatkan kehancuran. Ketidakmampuan kita untuk mengendalikan diri akan mengakibatkan kehancuran bagi diri sendiri bahkan orang lain. Tuhan akan membawa kita pada sesuatu yang baik, bahkan janji berkat-berkat Tuhan dibukakan dan dilimpahkan bagi setiap kita yang memiliki penguasaan diri. Ada dua kunci supaya kita dapat mengendalikan diri, diantaranya:

  1. Menyadari kelemahan diri. Kesadaran bahwa kita mempunyai kelemahan diri itu sangat penting. Kita harus menjauhi kelemahan itu supaya tidak terjebak dan terus ada didalamnya. Masalahnya, seringkali kita tidak sadar diri, maka itu dibutuhkan sahabat yang berani menasihati untuk memberitahukan kelemahan kita. Jika ada sahabat yang memberitahukan kelemahan kita, jangan kita menjadi marah. Seseorang dapat menerima teguran, jika orang yang menegurnya adalah orang yang benar atau benar-benar hamba Tuhan. (Yesaya 43:1) Pada saat kita percaya Tuhan, posisi kita menjadi ciptaan baru. Tapi setelah kita didalam Tuhan, kita mengalami proses pembentukan. Didalam gereja, kita dibentuk dan diarahkan, supaya menjadi dewasa dalam kerohanian. Pada saat kita dalam proses pembentukan, jangan kita mudah tersinggung, marah, dan emosi, tapi kita harus sadar diri, mengucap syukur, dan berterima kasih karena kita akan semakin baik, didewasakan, dan menjadi benar.
  2. Menyadari keberadaan diri. Orang Kristen tidak bisa menyadari diri karena seseorang itu tidak menyadari keberadaan dirinya. Seharusnya, sebagai orang Kristen kita mengetahui siapa kita. Kita adalah orang yang sudah diubah, ditebus, bahkan diselamatkan Tuhan, dan kita menjadi ciptaan baru didalam-Nya. Karena itu, bertindaklah sesuai dengan pertobatan kita menjadi manusia yang baru didalam Tuhan, yang menguasai diri dengan memperkatakan perkataan yang baik dan berbuat benar, sehingga dimanapun kita berada, kapanpun kita berada, kita akan menjadi berkat dan mempermuliakan nama Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s