Kasih yang Radikal

ps.Yoanes Kristianus

(Matius 22:37-39; 1 Korintus 13:13) kebutuhan manusia yang terbesar adalah dicintai dan dikasihi (diterima, dihormati, dan dihargai). Kasih merupakan perintah Tuhan. Jika seluruh isi Alkitab diperas, maka intisari yang keluar adalah kasih, bahkan apabila Alkitab sampai dilarang peredarannya pun, dengan tetap melakukan kasih, kita sudah melakukan keseluruhan perintah Tuhan. Seringkali manusia menghabiskan usia mereka untuk berjuang meraih posisi dan kekayaan, namun melupakan apa yang mereka perlukan untuk kekekalan. Mengampuni adalah salah satu bentuk kasih. Satu-satunya dosa yang tak dapat diampuni Bapa di Surga adalah jika kita tidak mengampuni orang lain (Markus 11:25-26). Giving the best to make others betterKasih selalu membawa transformasi (perubahan), maka lakukanlah kasih. Ada tiga ciri kasih yang radikal, diantaranya:

  1. Mencintai dan mengasihi tanpa mengharapkan imbalan (Galatia 6:2). Tuhan sudah memberi berkat dan kasih karunia pada kita tanpa kita harus membayarnya. Sekalipun kita giat melayani atau memberi perpuluhan, jika kita tidak melakukannya dengan kasih, semuanya sia-sia. Mengapa kita tidak boleh membantu dengan mengharapkan imbalan? Tugas kita untuk meringankan beban, bukan menambah beban. Kehadiran kita seharusnya membawa harapan, kasih, dan pertolongan, yang pada akhirnya membawa kelegaan dan kebahagiaan. Kehadiran kita seharusnya membawa segala sesuatu menjadi lebih baik. Bukti ketaatan kita pada firman TuhanMemberi kesempatan pada Tuhan untuk membalaskannya pada kita. Orang yang murah hati dekat dengan mujizat, karena penghambat mujizat terbesar dalam hidup kita adalah roh kikir. Jika kita sudah menerima imbalan dari manusia, artinya sudah impas, jangan menuntut Tuhan memberkati (membalas) kita lagi. Suatu saat kita akan membutuhkan bantuan orang lain karena tidak ada seorangpun yang sempurna. Saat ini kita masih kuat dan produktif, namun kita tak akan selalu demikian; suatu saat, karena usia, kita akan lemah dan tidak produktif lagi. Mulai rajinlah mengulurkan tangan, kaki, hati, pikiran, nasihat, dan dompet kita bagi sesama.
  2. Mencintai manusia tanpa membeda-bedakan. Tuhan memberi matahari dan hujan pada orang benar maupun orang yang tidak benar. Tuhan melakukannya agar orang yang tidak benar sekalipun mempunyai kesempatan untuk berubah. Tidak selalu kita mempunyai kesempatan untuk berbuat baik. Kita akan kehilangan kesempatan berbuat baik saat kita meninggal atau orang yang ingin kita kasihi disekitar kita sudah meninggal (Galatia 6:10).
  3. Mencintai dan mengasihi dengan tidak jemu-jemu (konsisten). Kita sudah menerima kasih (love and forgiveness) seluas lautan, janganlah kita membagikannya hanya secangkir/gelas (Galatia 6:9). Jika kita tidak melihat perubahan dalam keluarga, pada atasan/bawahan kita, jangan kecewa, tetap pikul salib, kesampingkan perasaan kita, kita pasti akan menuai (melihat perubahan itu) kalau kita tidak menjadi lemah. Tidak ada anak yang bodoh jika kita mendidiknya dengan konsisten. Tidak ada kelaparan, penyakit jika kita melayani dan membimbing mereka. Tidak ada yang binasa jika kita menyampaikan kabar baik secara konsisten. Untuk mengusir kegelapan kita hanya perlu menyalakan pelita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s