Hukum Tabur Tuai

ev.Timotius Adi Tan

“Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:22) Hukum tabur tuai adalah hukum yang tidak bisa dipatahkan, karena didalamnya ada keadilan dan kasih Tuhan. Hukum tabur tuai, bukan merupakan balas dendam, melainkan kasih yang mengandung disiplin, tanggung jawab, dan ketegasan. Segala hal yang kita tabur di alam jasmani, akan kita tuai di alam jasmani dan roh. Karma yang dianut kepercayaan lain menekankan pada hasil perbuatan di masa lalu. Hukum tabur tuai terjadi dalam tiga hal, diantaranya:

  1. Menabur dan menuai dalam sikap. Paulus berkata, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” (Galatia 6:7) karena ada anggapan bahwa hukum tabur tuai tidak akan terjadi, sehingga orang melakukan segala sesuatu dengan bebasnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita bertukar sikap dengan orang lain, sehingga didalam hati masing-masing orang memberi penilaian pada orang lain, apakah orang tersebut baik, pembual, atau menyebalkan. Karena tersimpan dalam hati, akibat dari suatu kesalahan dapat bertahan sampai bertahun-tahun, bahkan sampai beberapa generasi. Kemiskinan dapat menjadi kutuk yang tak ada putusnya, sehingga harus ada orang yang melepaskannya dari kutuk tersebut. Kita menabur dan menuai dari pikiran (positif), perkataan (positif), perbuatan (membangun), kebiasaan (pemenang), karakter (fondasi masa depan), dan masa depan (gemilang). Kita menabur benih ketekunan, ketulusan, kemaksimalan, maka akan menuai berkas kemenangan (Mazmur 126:5-6).
  2. Menabur dan menuai dalam kebaikan (Galatia 6:9-10). Kebaikan hati dilihat oleh orang buta dan didengar oleh orang tuli. Tindak kejahatan terjadi, dimulai dari diri sendiri, jika didalam keluarga, kejahatan yang ditabur, maka kejahatan akan mencuat keluar dan menguasai. Berbuat baiklah pada teman seiman, rekan kerja, namun terutama dalam inner circle kita (keluarga: orangtua, anak, dan saudara), maka dunia akan menuai kebaikan yang sejati, karena taburan kebaikan yang dimulai dari keluarga.
  3. Menabur dan menuai dalam Roh (Galatia 6:8). Menabur dalam daging, artinya memusatkan kehidupan pada diri sendiri, semua untuk saya (it’s all about me). Bukan berarti kita tidak boleh mengembangkan potensi menjadi yang terbaik dan excellent, tapi janganlah melakukan hal itu karena serakah, sehingga berpusat pada diri sendiri. Daging tidak pernah puas, ia selalu ingin lebih (Galatia 5:19-21). Sedangkan, hidup dalam Roh adalah hidup taat pada Tuhan dan mencari apa yang Tuhan mau dalam hidup kita. Hidup dalam Roh berpusat pada Tuhan (it’s all about Jesus). Yang kita tabur dalam roh akan menuai buah-buah Roh (Galatia 5:22). Kita tidak dapat hidup dan menjalani kedua-duanya, daging dan roh. Kita harus putuskan mau hidup dalam daging atau dalam Roh. Miliki hati (goodwill) untuk hidup berkenan pada Tuhan, maka Dia akan menjadi pusat hidup kita. Saat kita memutuskan untuk menghadapkan wajah pada Roh, secara otomatis kita memberikan punggung kita pada daging. “The salvation of all requires the most dear sacrifice of One.”

Mengapa kita bisa bertahan hidup dalam Kristus, meskipun harus mengalami penderitaan? Karena kasih Kristus. Mengapa kita mau menabur kebaikan pada orang lain? Karena it’s not about me, it’s all about Jesus. Mengapa kita mau menjadi seorang ayah yang baik? Karena kita hidup untuk Kristus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s