Worship with Heart

ps.Bambang Jonan

Yohanes adalah pribadi yang sangat dicintai Tuhan, ia berani menempelkan kepalanya ke dada Tuhan, satu-satunya murid Tuhan yang tidak lari dari ancaman ahli-ahli taurat, ketika Yesus dinaikkan keatas kayu salib. Cintanya lebih besar daripada ketakutannya.

Kota Samaria adalah kota yang tidak mengindahkan kekudusan dalam pernikahan. Ada perempuan Samaria yang sudah lima kali menikah, namun tidak satupun berada dalam koridor pernikahan yang kudus. Ia kehilangan hubungan sosialnya, ia mengambil air pada siang hari dimana semua orang tidak melakukannya. Jika ia mengambil air pada pagi hari, ia akan mendapat cemooh dari orang lain yang sedang menimba air. Perempuan ini sangat kaya, tidak bergantung pada kekayaan laki-laki lain, parasnya cantik, namun ia tak pernah merasa puas atas keadaannya. Ketika ia berjumpa dengan Yesus, ada suatu gap yang memisahkan antara ia dengan Yesus, karena perempuan Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi. Ketika Yesus berkata bahwa Dia dapat memberikan kepadanya apa yang tidak pernah ia miliki, perempuan ini tertarik mengikuti Yesus, sehingga tidak ada lagi gap antara ia dengan Yesus. Perempuan Samaria itu menjadi orang pertama yang menginjil dan menjadi saksi Yesus dalam Perjanjian Baru sebelum para rasul bermunculan. Perempuan Samaria hanya mengenal Tuhan dari jauh. Perjumpaan perempuan Samaria dengan Yesus, mengajar kita bagaimana menyembah (pruskoneo, to kiss) dengan keintiman (dari dekat). Melalui pribadi perempuan Samaria, Tuhan mengajarkan suatu hubungan yang intim kepada Bapa di Surga.

Raja Daud, seorang yang senang memuji dan menyembah Tuhan. Firman Tuhan berkata bahwa Daud tidak pernah pulang dengan membawa kekalahan, ia seorang mighty warrior, hal ini terbukti ketika ia berada dikemah orang fasik. Daud adalah seorang raja yang sangat dihormati. Yang terutama dalam penyembahan bukanlah dirinya, bukanlah jabatan yang ada, namun yang terutama dalam penyembahan adalah Tuhan itu sendiri, ini dibuktikan dalam penyembahan Daud dikatakan sebagai mata seorang laki-laki yang memandang kepada tangan tuannya. Dalam penyembahan, bukan berbicara hanya merasakan kehadiran-Nya, namun kita juga harus masuk sampai kedalamannya hingga bisa mencium Tuhan. (Mazmur 115:4-8) saat kita menyembah patung, kita akan seperti patung yang memiliki mata namun tidak bisa melihat, yang memiliki telinga namun tidak bisa mendengar. Jika kita menyembah Tuhan yang hidup, maka kita akan menjadi seperti Dia. Sebagai mempelai wanita-Nya, kita harus menyembah Dia dari hati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s