Pilihan Orang Bijaksana

ps.David Tjakra Wisaksana

Setiap hari, kita diberikan kesempatan untuk memilih. Segala sesuatu yang telah berlalu, tidak dapat terulang kembali. Keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan apa yang terjadi dihari esok. “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” (Mazmur 90:12) “supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.” (1 Petrus 4:2) Dalam kehidupan, ada hal yang bisa kita pilih dan ada hal yang tidak bisa kita pilih. Contoh hal yang tidak bisa kita pilih, seperti memilih keluarga, jenis kelamin, dan sebagainya; namun ada hal yang Tuhan beri kita kebebasan untuk memilih. Orang yang bijaksana harus cermat saat diberi kesempatan untuk memilih. “Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini,” (Ulangan 11:26-27) Saat kita salah memilih, maka kita dan keturunan kita akan terkena akibatnya. Pilihan kita akan menentukan apa yang akan kita dapatkan, apakah berkat atau kutuk? Jika kita mendapatkan berkat, berarti kita telah memilih kehidupan bersama Tuhan. Karena itu, kita harus memperhatikan ibadah kita. Ibadah bukan berbicara hari Minggu saja, melainkan segala hal yang kita lakukan (saat berbicara, bekerja, sekolah, dan sebagainya), lakukanlah seperti untuk Tuhan (Kolose 3:23), itulah ibadah kita yang sesungguhnya. “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1) Ambil pilihan yang berkenan dihadapan Tuhan. Jangan sembrono dengan perkataan kita. “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21) Buah yang kita hasilkan berasal dari perkataan kita. (Matius 12:36-37).

Efesus 5:19 Abraham begitu dekat dengan Allah. Ada tiga hal mengapa Abraham dikatakan sebagai sahabat Allah? “Dengan jalan demikian genaplah nas yang mengatakan: “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.” Karena itu Abraham disebut: Sahabat Allah.” (Yakobus 2:23)

  1. Abraham memilih untuk percaya kepada Allah. Abraham taat dan percaya saat Allah memintanya pergi menuju negeri yang dijanjikan-Nya, meskipun ia tidak tau dimana tempatnya.
  2. Abraham memilih untuk mengalah. Saat Abraham harus berpisah dengan Lot, ia membiarkan Lot memilih lebih dulu kota yang akan Lot tinggali. Lot salah menentukan pilihan, sehingga ia harus menerima akibatnya dari Tuhan. Di tahun Ayin Daleth ini, kata ‘daleth’ berarti telinga, pasang telinga kita baik-baik.
  3. Abraham memilih untuk mempercayai (menaruh iman) kepada Tuhan. Saat Abraham diperintahkan Allah mempersembahkan anak satu-satunya (Ishak), meskipun berat, ia tetap taat karena percaya pada rencana Tuhan. Kata ‘iman’ ditulis sebanyak 558 kali dalam Firman Tuhan, bahkan lebih banyak dari kata ‘kasih’ dan ‘pengharapan’, karena iman akan menjadi langka. Belajarlah untuk mempercayai sesuatu bukan dari hal-hal yang kelihatan mata saja, tapi belajarlah juga mempercayai hal-hal yang tidak terlihat mata sekalipun.

Kita dapat belajar dari kehidupan Abraham untuk senantiasa berserah pada Tuhan dan memberi yang terbaik pada Tuhan dan sesama. Kiranya pilihan kita didasari pada kehendak Allah, bukan kehendak kita sendiri, karena apa yang berasal dari Bapa, itulah yang terbaik bagi kita. Bijaksanalah memilih dalam setiap langkah hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s