Menguji Diri Sendiri

ev.Onna Tahapary

“Kalau kita menguji diri kita sendiri, hukuman tidak menimpa kita.” (1 Korintus 11:31) Menguji diri sendiri bukan hanya dilakukan setiap hari atau seminggu sekali; menguji diri sendiri harus terjadi setiap saat. “dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?” (Ayub 7:18) Beranilah menguji diri sendiri setiap saat. “Tuhan ada di dalam bait-Nya yang kudus; Tuhan, takhta-Nya di sorga; mata-Nya mengamat-amati, sorot mata-Nya menguji anak-anak manusia.” (Mazmur 11:4) Meskipun di bumi terdapat milyaran orang, namun setiap saat kita menjadi sorotan mata Tuhan; setiap saat mata Tuhan mengamati dan hanya tertuju kepada kita. Ada tiga hal yang harus kita uji didalam diri kita sendiri, diantaranya:

Bagaimana kesinambungan (sustainability) atau ketahanan kita dalam mengerjakan kebenaran? “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5) Banyak orang menjalani kehidupan yang benar tidak secara berkesinambungan. Tuhan menguji kita, apakah kita tetap tegak berdiri (ketahanan yang berkesinambungan) dalam iman untuk hidup dalam kebenaran, karena kesadaran kita bahwa Kristus dan Firman-Nya tinggal dan menetap didalam kita. Jika kita tidak tahan uji, maka kita akan menerima hukuman.

(Kejadian 42:16) perkataan yang keluar dari mulut kita harus dapat dipertanggungjawabkan. Kuasa perkataan yang benar akan menjadi proyeksi Tuhan. “Janganlah kamu selalu berkata sombong, janganlah caci maki keluar dari mulutmu. Karena Tuhan itu Allah yang mahatahu, dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji.” (1 Samuel 2:3) Jika kita berbicara, janganlah kita hidup dalam realita kesombongan atau tinggi hati. What you think is what you talk about. What you talk about is what you act. Hiduplah dalam esensi kerendahan hati. Bicara tinggi, selama itu merupakan suatu realita, maka hal tersebut boleh dilakukan, selama perkataan kita tersebut mampu membawa orang lain untuk lebih menghormati atau berkesan (impress) pada Tuhan, bukan malah sebaliknya, membenci Tuhan dan menaruh kesan pada diri kita. Janganlah kita mencaci maki, karena entah hal itu dilakukan secara sadar atau tidak sadar, pasti Tuhan akan menyorotinya. “Bila Engkau menguji hatiku, memeriksanya pada waktu malam, dan menyelidiki aku, maka Engkau tidak akan menemui sesuatu kejahatan; mulutku tidak terlanjur.” (Mazmur 17:3) Berpikirlah dulu sebelum mengeluarkan perkataan, jangan sampai mengeluarkan suatu pernyataan, “Sudah terlanjur.” (Amsal 24:12) Jika kita menghidupi setiap esensi kebenaran, maka perjalanan hidup kita akan senantiasa dipenuhi dengan kemudahan dan kemurahan.

“Aku tahu, ya Allahku, bahwa Engkau adalah penguji hati dan berkenan kepada keikhlasan, maka akupun mempersembahkan semuanya itu dengan sukarela dan tulus ikhlas. Dan sekarang, umat-Mu yang hadir di sini telah kulihat memberikan persembahan sukarela kepada-Mu dengan sukacita.” (1 Tawarikh 29:17) Tuhan menguji hati (apakah hati kita dipenuhi dengan tulus ikhlas, kemurnian, dan sukarela, atau justru dikuasai dengan sikap tinggi hati). “Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak untuk mempercayakan Injil kepada kami, karena itulah kami berbicara, bukan untuk menyukakan manusia, melainkan untuk menyukakan Allah yang menguji hati kita.” (1 Tesalonika 2:4) Ujilah hati kita saat memberi, apakah kita memberi dengan kemurnian hati, karena Tuhan tidak memandang besarnya nominal yang kita beri. Tuhan menguji motivasi kita, apakah setiap pesan yang kita keluarkan dari mulut kita adalah sesuatu hal yang murni atau perkataan yang hanya ingin menyenangkan telinga orang, atau mengeruk kekayaan/keuntungan dari orang lain. (1 Petrus 1:7) Saat kita beriman, apakah percaya kita kepada Tuhan merupakan suatu hal yang murni atau kita hanya menginginkan berkat Tuhan saja? Jangan setir Tuhan untuk menjawab segala keinginan kita. Pintu yang tertutup tidak bisa membantah realita bahwa Tuhan telah teruji mampu membukakan pintu. Saat terbaik untuk kita menghormati Tuhan adalah ketika Tuhan tidak menjawab doa kita. “Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” (1 Korintus 3:14)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s