Respon yang Benar Ditengah Badai

ps.Fransiskus Irwan Widjaja

(Matius 8:23-27) “Tuhan, tolonglah, kita binasa,” merupakan kalimat pertama yang diucapkan murid-murid Yesus ketika angin ribut (masalah) datang. John Newton, seorang pelaut handal yang tidak mengenal Tuhan. Suatu ketika, ia mengalami badai dan kapalnya karam, hingga ia hampir binasa, saat itu Tuhan menolongnya dan lagu “Amazing Grace” tercipta. Bagaimana respon kita jika kita berada satu perahu dengan murid-murid Yesus saat badai datang? Bagaimana sikap kita menghadapi pilihan? Kita yang menentukan pilihan, apakah mau tetap bertahan mengandalkan Tuhan atau mau terjun bebas, mau tetap menjalankan Firman Tuhan atau mau mengandalkan kekuatan diri sendiri? (Lukas 11:28) Dalam hidup ini, kita mengelompokkan konflik menjadi empat, yaitu konflik dengan keluarga/sesama, konflik dengan pribadi/diri sendiri, konflik dengan alam, dan konflik dengan Tuhan. Dalam setiap konflik, bagian kita adalah membuat pilihan. Berikut beberapa contoh konflik tokoh di Alkitab: Konflik dengan keluarga/sesama. Lot mengambil pilihan yang keliru ketika ia memilih tinggal di kota Sodom dan Gomora. Akibat pilihannya itu, ia menghancurkan keluarganya dengan dosa percabulan (Kejadian 19:32-34), sehingga lahirlah Bani Amon dan Bani Moab. Pilihan yang benar: Abraham memilih untuk percaya dan mengalah. Akibat pilihannya itu, Abraham dan keluarganya tinggal di negeri yang diberkati Tuhan. Konflik dengan pribadi/diri sendiri (Kejadian 17; Roma 4:18) Abraham tetap percaya pada janji Tuhan, meskipun tak ada dasar untuk berharap. Ia memilih percaya bahwa mujizat masih ada. Tuhan membuat mujizat dari hal yang sederhana sampai dengan hal yang rumit. Tuhan tetaplah Tuhan yang melakukan mujizat. Konflik dengan Tuhan. Pilihan yang benar: ketika Abraham menghadapi konflik dengan Tuhan, ia memilih untuk taat (Kejadian 22:2), Tuhan meminta Ishak, anak yang paling berharga bagi Abraham untuk dipersembahkan pada Tuhan. Abraham juga menghadapi respon Sara atas permintaan Tuhan itu, namun Abraham tetap taat pada-Nya. Tuhan hanya menguji Abraham dan sesungguhnya Dia telah menyiapkan domba persembahan atas ketaatan Abraham.

Yesus merupakan teladan ketaatan yang sempurna, bahkan Dia rela mati di atas kayu salib menuruti kehendak Bapa di Surga. Ketaatan kita seringkali juga diuji dalam hal memberi (Matius 6:24). Bagaimana jika seandainya posisi kita dalam konflik dan Tuhan tidak berbicara apa-apa pada kita? (Yesaya 30:15; Mazmur 62:5; Amsal 14:30; Pengkhotbah 4:6; Keluaran 14:14; Yesaya 32:17; Yakobus 1:8). Respon Yesus kepada para murid-Nya, “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” Yesus menegur para murid, lalu menolong mereka. Ketika saat ini kita sedang menjalani teguran dari Tuhan, diam saja, Tuhan pasti akan menolong. Kata “Iapun bangun, menghardik angin itu dan menjadi sangat tenang” berarti hukum Tuhan mengatur, menguasai, dan mengalahkan hukum alam (Wahyu 3:19). Tuhan tau kekuatan kita tak seberapa, tapi Dia mencari orang yang setia. Di tahun Ayin Daleth ini, masuklah melalui pintu Tuhan. Kita adalah duta besar Kerajaan Allah (2 Korintus 5:20). Tugas duta besar kenegaraan adalah hanya melakukan tugas kenegaraan, hanya menerima gaji (berkat) dari negara yang mengutus, punya hak istimewa dan kekebalan hukum, dan bagian kita menyampaikan berita Kerajaan Allah, sedangkan bagian Tuhan adalah mencurahkan berkat-Nya atas kehidupan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s