Respon yang Benar akan Penderitaan

ps.Daniel Arief Sugianto

“Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Matius 16:21-22)

Petrus merasa sangat tidak nyaman dengan kata ‘penderitaan’. Kita adalah murid-murid Tuhan, seperti Petrus, alergi dengan kata ‘penderitaan’. Petrus sangat beroposisi dengan pernyataan Tuhan. Banyak diantara kita mudah kecewa saat penderitaan Tuhan izinkan terjadi, kita tidak berpikir panjang akan rencana Tuhan dibalik masalah yang dihadapi, padahal tujuan akhirnya, Tuhan ingin menyatakan kuasa kebangkitan-Nya. Murid-murid Tuhan menyimpulkan dari cara pandang yang pendek dan terbatas, lebih cepat bereaksi tanpa menyimak rencana Tuhan yang baik secara keseluruhan. Jangan bersikap arogan dan kurang ajar kepada Tuhan. Dalam hidup ini, penderitaan adalah sesuatu yang tidak dapat terelakkan. Orang yang hidup tanpa Tuhan pun tak dapat mengelak dari penderitaan. Mari dewasa menanggapi segala hal yang kurang menyenangkan, yang Tuhan izinkan terjadi didalam hidup kita. “Sebab itu aku senantiasa berusaha untuk hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.” (Kisah Para Rasul 24:16) banyak orang tidak menjaga hati nuraninya, sehingga tanpa sadar mereka menyerang Tuhan karena tidak setuju dengan penderitaan yang harus mereka hadapi. Paulus melatih hatinya supaya hati nuraninya tidak menyerang Tuhan dan sesama. Jangan lepas kontrol, jagalah hati kita. Usahakan hidup menjadi umat yang berkenan kepada Tuhan untuk entering the next level. Pemulihan seutuhnya tidak dapat terjadi jika kita menuduh dan memusuhi pribadi Tuhan. Yerusalem adalah tempat Yesus dimuliakan, bukan sekedar tempat dimana Yesus disiksa.

“Now acquaint yourself with Him, and be at peace; Thereby good will come to you.” (Ayub 22:21) Berlakulah ramah terhadap Tuhan. Tanpa ‘shalom’ (damai sejahtera), tidak ada kenikmatan hidup. Jagalah shalom kita. Jika kita marah, kita sedang merugikan diri sendiri. Mengasihi dan menghormati Tuhan membutuhkan latihan yang kontinu. Ubahlah marah menjadi ramah, maka shalom akan senantiasa dipertahankan dalam kehidupan kita. Orang yang melawan Tuhan berarti tidak mengakui keterbatasan dirinya. Be at peace with God, tak ada untungnya be at war with God. (Yakobus 1:2-4) Ada dua macam penyerahan, yaitu: penyerahan karena sudah putus asa (tidak boleh kita lakukan) dan penyerahan karena kita percaya kepada Tuhan. Jangan curiga terhadap rencana Tuhan. Yerusalem pada akhirnya akan membawa kita pada suatu keadaan dimana kita sempurna, utuh, dan tidak kekurangan suatu apapun. Jadilah orang yang berdamai dengan Tuhan. (Roma 12) ibadah yang sejati adalah ibadah yang mempersembahkan dan menyerahkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s