Bereaksi Benar Dalam Tekanan

ev.Onna Tahapary

Hidup kita tidak terlepas dari tekanan dan proses kehidupan. Kita mungkin mengalami banyak ketidakwajaran dalam hidup, masalah, dan tantangan. Seharusnya, yang menjadi fokus kita bukanlah tekanan hidup, melainkan bagaimana kita dapat bereaksi dengan benar dalam menghadapi tekanan dan proses. (Habakuk 3:2, 17-19) tiga ayat tersebut menggambarkan keadaan Habakuk yang sedang mengalami ketidakwajaran, namun reaksi Habakuk, ia tetap bersorak-sorai dan beria-ria dalam Tuhan ditengah ketidakwajaran yang terjadi. Habakuk mengatakan bahwa Tuhan membuat kakinya seperti rusa yang berjejak di bukit. Ketahuilah bahwa hanya rusa-rusa unggul yang mampu naik hingga mencapai atas bukit. Ada tiga prinsip yang dapat kita pelajari, supaya kita dapat bereaksi benar dalam menghadapi tekanan atau proses kehidupan, diantaranya:

  1. Tetap meyakini bahwa Tuhan adalah Tuhan. Ditengah beratnya tekanan yang kita hadapi, kita harus tetap meyakini bahwa Dia adalah Tuhan. Jangan pernah meragukan kemahakuasaan-Nya.  Meskipun kita berada ditengah kondisi yang tidak wajar, kita harus tetap beria-ria dalam Tuhan, karena melalui proses yang kita hadapi, Tuhan akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang unggul. Kita harus tetap percaya bahwa ditengah ketidakwajaran, Tuhan sanggup menyelamatkan, memberi kekuatan, dan membuat kita menjadi pribadi yang unggul (2 Samuel 22:34-37).
  2. Berani menghadapi tantangan. Dalam Yohanes 18:1-11, kita dapat melihat bahwa Tuhan adalah Pribadi yang berani, Dia tidak pengecut. Ketika pasukan datang untuk menangkap-Nya dan mencari Yesus dari Nazaret, Dia dengan lantang menjawab, “Akulah Dia.” Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah pribadi yang berani. Dia memiliki kuasa untuk menyelamatkan diri-Nya sendiri saat itu, tapi Tuhan memilih untuk tidak melakukannya, karena Dia tau akan ada sebuah proses sulit yang harus Dia hadapi, namun Tuhan tetap berani menghadapi proses yang ada. Orang yang berani menghadapi tantangan, pasti menerima kekuatan baru untuk menghadapi tantangan berikutnya. Daniel memutuskan untuk tetap berdoa pada Tuhan dan tidak menyembah raja, sehingga ia dihukum masuk kedalam gua singa, namun Daniel tidak takut, ia tetap menghadapi proses hukuman tersebut, dan hasilnya, Tuhan menyelamatkan Daniel dari terkaman singa-singa lapar.
  3. Temukan inti pembelajaran. Dalam Ayub 23:10-12, “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” Ayub menghadapi tekanan yang tidak mudah. Dalam sehari, anak-anaknya meninggal, harta bendanya habis, sahabat-sahabatnya meninggalkannya, sang istri tidak mendukungnya, dan Ayub menderita penyakit kulit. Ditengah tekanan hidup yang berat itu, Ayub memilih untuk bereaksi dengan benar. Ia tidak mengutuki dan meninggalkan Tuhan, dan hasil dari reaksi-reaksinya tersebut, Ayub memperoleh pengenalan akan Tuhan. Ketika kita menghadapi proses kehidupan, kita harus menemukan inti pembelajaran dari setiap proses yang Tuhan izinkan terjadi atas hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s