Menantikan Kedatangan Tuhan

ps.Kristina Faraknimella

(Matius 25:1-13) Kita sedang menanti-nantikan masa Pentakosta ketiga, hal ini terjadi sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kalinya. Tanda-tanda kedatangan-Nya sudah semakin dekat dan tampak dalam keadaan dunia sekarang ini. Ada dua hal yang harus kita lakukan saat menanti-nantikan kedatangan Tuhan, diantaranya: Menjadi hamba yang setia. Dalam Matius 25:21, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” Menjadi hamba yang setia artinya meskipun tuannya pergi, namun ia tetap bekerja, berarti kita harus senantiasa berjaga-jaga dan tetap melakukan Firman Tuhan. Menjadi seperti lima gadis bijaksana. Dalam Matius 25:3-4, “Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.” Perbedaan antara lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh terletak pada perbedaan persediaan minyak. Kita harus senantiasa memiliki persediaan minyak dalam kehidupan kita. ‘Minyak’ berbicara mengenai kita penuh dengan Roh Kudus dan tetap hidup dalam kehendak Tuhan, karena itu kita harus memiliki sikap sebagai berikut:

  1. Rela untuk didisiplinkan. Terkadang kita perlu memaksa daging kita untuk mendisiplinkannya, yaitu untuk membaca Firman Tuhan, berdoa, memuji dan menyembah Tuhan. Seringkali daging kita justru berlawanan dengan Roh kita. Jika kita lebih sering mengikuti daging kita, maka kita sangat jarang bahkan menjadi malas berdoa, membaca Firman Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan. Untuk hidup tak bercacat cela tidaklah mudah, namun ini merupakan standar seorang mempelai Kristus untuk masuk dalam perjamuan kawin Anak Domba Allah, yang siap diangkat bersama-sama dengan Tuhan. Jika kita ingin mengalami terobosan dalam pelayanan dan kehidupan rumah tangga, kita harus menjadi seperti generasi Yohanes, yang mengetahui detak jantung Tuhan dan fokus hanya pada Tuhan. Jika hal ini yang kita kerjakan hari-hari ini, kita akan senantiasa menyala-nyala melayani Tuhan.
  2. Rela diproses. Jika kita mau terus menyala-nyala, kita harus rela diproses. Saat kita mengalami proses Tuhan, jangan menyalahkan orang lain, tapi kita harus merelakan diri kita diproses Tuhan. Waktu kita diproses, yang perlu kita lakukan adalah bertanya pada Tuhan, apa yang perlu kita ubah dalam hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s