Financial Concepts in the Bible

ev.Onna Tahapary

“Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.” (Matius 6:24)

Dalam kemahakuasaan-Nya, Tuhan tidak dapat disamakan dengan segala apapun. Barangsiapa mengabdi pada Tuhan, ia tidak dapat mengabdi pada mamon. Definisi uang adalah secarik kertas dengan angka (nilai) tertentu didalamnya, yang akan menegaskan nilai apa yang kita anut atau yakini. Kita menata apa yang Tuhan percayakan pada kita (sebagai penata layan). Posisi uang harus berada dalam kekuasaan kita, bukan uang yang menguasai kita. Kita harus menjadi orang yang mampu memutuskan, uang tersebut akan digunakan untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan uang, kita dapat menakar kualitas kita dalam keseimbangan kehidupan sampai ditingkat mana, apakah kita memiliki ketergantungan pada uang atau tidak. Orang yang dikuasai uang memiliki independent spirit, selfish (egois, berpikir bagaimana uang dapat memuaskan keinginannya sendiri dan orang tersebut merasa puas dengan keberadaan uang). Jika uang berfungsi dengan baik, kita tidak akan berpikir memuaskan diri sendiri, tapi kita dapat berpikir bagaimana uang dapat memberikan warisan yang dapat memuaskan kepentingan orang lain dan merubah kualitas kehidupan orang lain. Perihal keuangan telah diajarkan dalam Firman Tuhan sejak dahulu. Ada tiga konsep keuangan menurut Firman Tuhan, diantaranya:

Konsep untuk berbagi (Pengkhotbah 5:10). Orang yang cinta uang tidak akan pernah merasa puas. Kata ‘puas’ mengacu pada pencapaian tingkatan keuangan. Kita tidak akan pernah merasa puas jika fokus kita hanya mengejar pencapaian lebih banyak dari yang dimiliki sekarang. Terdapat dua sisi manusia dalam hal pengelolaan keuangan, yaitu to have (kebahagiaan akan saya peroleh jika saya memiliki sesuatu) dan to be (kebahagiaan akan saya peroleh jika saya menjadi orang yang berarti bagi orang lain dengan cara berbagi). Kita harus menjadi orang yang dapat memberi makna pada kehidupan orang lain (to be). Uang tidak perlu dikejar, karena uang akan mengikuti kualitas kita. Upgrading diri kita, sehingga dengan kualitas yang baik, uang akan mengikuti kita. Orang yang memburu uang, pada tingkatan tertentu akan sampai pada titik kehampaan (ketidakpuasan). Memburu uang untuk memuaskan diri sendiri tidak akan pernah membawa seseorang mencapai tingkat kepuasannya. Kebahagiaan kita yang sesungguhnya bukan ditentukan dari berapa banyak yang kita pegang, tapi dari seberapa banyak yang kita dapat bagikan pada orang lain.

Jangan menjadi hamba uang. Kita didesain bukan menjadi hamba uang, tapi sebagai orang yang menata keuangan (Ibrani 13:5-6). Hargai kata ‘cukup’ dalam kehidupan kita. Banyak orang terjebak dengan hedonisme (kemewahan) dan menganggap kata ‘prihatin’ sebagai sebuah keterpurukan. Banyak orang terjebak dengan materialistis (mengikatkan kita pada orientasi kebendaan). Kecukupan kita seharusnya menjadi kelebihan bagi orang lain, namun banyak orang tidak terbiasa dengan kata ‘cukup’ dan menghargai kata ‘lebih’. Untuk dapat berbagi dengan orang lain, hargai kata ‘cukup’ dan ‘prihatin’, karena dengan kata ‘cukup’, kita tidak akan dikuasai ketakutan (kemiskinan, kekurangan, kesusahan hidup, bekerja rodi, tidak dapat menikmati kehidupan). Orang yang terbiasa menghargai kata ‘cukup’, maka Tuhan akan berdiri di depan kita dan tidak akan membiarkan kita hidup dalam kekurangan (Mazmur 23:1). (Filipi 4:11-13) ketamakan membawa kita pada kecelakaan hidup. Orang yang terbiasa dalam hidupnya menghargai kata ‘cukup’, apapun keadaannya, dalam kekurangan maupun kelimpahan, tidak akan membuatnya jatuh bangun dan goyah imannya, tapi orang tersebut akan senantiasa hidup dalam kestabilan.

Jangan mengharapkan balasan (reward). Dalam Matius 6:2,4, yakini bahwa reward merupakan kedaulatan Tuhan. Jangan berharap orang lain yang membalasnya pada kita. Orang yang orientasi hidupnya pada kecukupan dan bukan hamba uang, akan langsung memberi tanpa lebih dahulu berpikir orang lain membalasnya atau tidak. Jangan atur Tuhan dalam hal membalas (30x, 60x, atau 100x ganda), karena Tuhan pasti akan membalas dalam kedaulatan-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s