Semua Karena Anugerah-Nya (Galatia 5)

ps.Philip Mantofa

ps.Philip Mantofa

ps.Philip Mantofa

Kitab Galatia membahas mengenai kasih karunia. Galatia 5 membahas kata ‘kasih’ dalam kasih karunia. (Galatia 5:1-3) Bagi Tuhan, mencurahkan berkat itu mudah. Janganlah kita mengejar berkat, karena sesungguhnya berkat itu telah Tuhan sediakan bagi kita. Tuhan sudah memenangkan dan menggenapi semua hukum Taurat, hanya satu hal yang perlu kita kerjakan yaitu mengasihi Tuhan dan sesama. (Galatia 5:4) Jika kita tidak hidup dalam kasih, kita menjauh dari Kristus. Di luar Kristus, tidak ada kasih karunia. (Galatia 5:5-6) Segala kasih karunia yang ada dalam kita tidak pernah dimulai dengan iman, tapi dimulai dari kasih. Bahkan, iman pun dimulai dari kasih. Kita harus mengerti sungguh-sungguh bahwa mengasihi Tuhan merupakan perintah yang serius, karenanya Tuhan mengaruniakan segalanya bagi mereka yang hidup mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Tuhan hanya meminta kasih dari hidup kita dan Tuhan akan memberikan segala yang Dia miliki bagi kita, itulah karunia. Hidup di dalam kasih itulah yang mengundang karunia. Seringkali semuanya hanya fokus pada iman yang besar atau pada karunia, namun mengesampingkan kasih. Hidup dalam kasih mengundang kuasa.

Dalam Galatia 5:7-12, definisi kasih yang pertama bukanlah kasih kita pada Tuhan, melainkan kasih Tuhan pada kita. Salib melambangkan kasih-Nya pada kita. Sunat melambangkan kasih kita pada Tuhan. Kita bisa mengasihi karena Tuhan mengasihi kita lebih dulu. Jenuh rohani selalu dimulai dengan konsep yang salah tentang diri kita yang tak pernah diperbaiki siapapun. Kita seringkali membaca Firman Tuhan hanya supaya kita dapat tinggal dalam kasih. Fokus kita hanya pada kasih yang kita lakukan, bahwa jika kita mencintai Tuhan, kita harus membaca Firman Tuhan. Seharusnya, kita membaca Firman Tuhan bukan untuk membuktikan cinta kita pada Tuhan, melainkan supaya kita dapat menemukan kasih-Nya. Itu sebabnya, banyak anak Tuhan mengalami kekeringan rohani. Saat kita merasa cukup dalam kasih Tuhan, segala yang sukar bisa menjadi mudah. Allah memanggil kita bukan untuk membuktikan bahwa kita mencintai-Nya, melainkan untuk memberikan kasih-Nya bagi kita. (Galatia 5:13-15) Orang yang hidup dalam kasih Tuhan, tidak lantas mudah untuk hidup dalam kasih pada sesamanya, diperlukan proses untuk kita memiliki hati yang mengasihi sesama. Jika bukan Tuhan yang menyempurnakan dan mengembangkan kasih dalam hidup kita, kita akan sulit hidup mengasihi sesama kita. (Galatia 5:16-21) Tugas pertama Roh Kudus adalah menyempurnakan kasih Allah dalam hidup kita. Roh Kudus menuntun kita untuk mengenal Tuhan, sekalipun kita belum didalam Dia, dan kita dapat hidup sesuai dengan rencana-Nya. Apapun yang Tuhan perintahkan kita lakukan, lakukanlah, sebab itulah kasih. Kasih adalah kasih Tuhan pada kita, jadi kita lebih banyak berperan secara pasif. Yang kita harus lakukan secara lebih aktif adalah kasih kita terhadap sesama.

Saat kita mengisi gelas kasih Tuhan, maka Dia akan mengisi gelas karunia kedalam hidup kita secara berlimpah. Hukum timbal balik dalam Tuhan, bukan Tuhan menggantikan apa yang kita berikan, tapi Tuhan menambahkan apa yang kita berikan dan menjadikannya berlipat kali ganda. (Yohanes 15:9-11) Tuhan tidak pernah meminta kita mengasihi Dia, tapi Dia meminta kita tinggal dalam kasih Tuhan. Tuhan rindu kita mengasihi sesama kita, dan ketika kita melakukannya, itulah tanda kita mengasihi Tuhan. Dalam Yohanes 15:12, “Inilah perintah- Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” Jika kita mau membalas kebaikan Tuhan, janganlah kita membalasnya pada Tuhan, namun balaslah dengan kita mengasihi orang lain untuk menunjukkan kasih kita pada Tuhan. Jadikan diri kita perpanjangan tangan Tuhan untuk mengasihi sesama. (Galatia 5:22-24) Tiga buah roh pertama adalah buah roh yang pasif, hanya berserah dan menurut saja. Menurut berbeda dengan ketaatan. Menurut, hanya berserah dan menyerap segala yang Tuhan berikan. Enam buah roh berikutnya merupakan buah ketaatan yang memerlukan sebuah tindakan. Kasih itu membuka pintu berkat yang sambung-menyambung dalam segala hal. Orang yang hidup dalam kasih, sukacita, dan damai sejahtera, akan lahir kesabaran, ia lebih sabar pada orang lain. Saat kita dekat dengan orang lain dan secara alami kita berbuat baik, itulah kemurahan. Kita bisa berbuat baik pada semua orang, bahkan saat musuh datang membutuhkan pertolongan kita sekalipun, kita mampu berbuat baik. Orang yang menabur kebaikan akan menuai kesetiaan. Dalam kelemahlembutan, meskipun kita mempunyai kuasa untuk membalas, tapi kita tidak melakukannya. (Galatia 5:24-26) Setelah kelemahlembutan, timbul penguasaan diri. Saat kita bisa melalui semuanya, kita akan dibawa Tuhan masuk dari satu kemuliaan pada kemuliaan yang lebih tinggi lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s