Love and Commitment

ev.Onna Tahapary
Bagi Tuhan, sebuah hubungan adalah inti yang harus dipertahankan untuk masa depan. Komitmen adalah keberanian seseorang untuk dengan sadar mengikatkan diri dengan janji untuk mengerjakan sesuatu sampai masa depan. Tak ada batasan waktu untuk sebuah komitmen. Batasan komitmen yang sesungguhnya adalah masa depan. Ketika kita berbicara mengenai komitmen, berarti kita sedang membicarakan masa depan (selamanya, tanpa batasan periode tertentu). Sebuah artikel menuliskan, “People changesfeeling changescircumtance changes, but commitment to love someone forever is not a realistic commitment (manusia berpikir bahwa ia telah berubah, perasaannya berubah, keadaan pun berubah, maka adalah sesuatu yang wajar jika komitmen cinta tidak dipertahankan lagi). Tuhan mempertahankan komitmen-Nya untuk terus mengasihi kita hingga beribu-ribu keturunan, tanpa terpengaruh perubahan dunia. Prinsip komitmen cinta adalah perubahan boleh terjadi, namun komitmen harus tetap dipertahankan. Komitmen itu mudah untuk diucapkannya, namun tidak mudah dilakukan, untuk itu Tuhan memberikan prinsip-prinsip bagaimana kita untuk berkomitmen. Ada empat prinsip kebenaran Firman Tuhan yang mengajar kita dengan jelas untuk tetap memegang komitmen, sekalipun sesama, perasaan dan keadaan telah berubah, diantaranya:
  1. Cinta tidak boleh didasari perasaan, Cinta harus didasari komitmen oleh prinsip-prinsip kebenaran Firman Tuhan. Suami istri berkomitmen mencintai satu sama lain, orangtua dan anak berkomitmen mencintai satu sama lain. Dalam 1 Korintus 16:23a, “Kasih karunia Tuhan Yesus menyertai kamu.” Ekspresi cinta diwujudkan dalam bentuk kehadiran satu sama lain.
  2. Kehadiran adalah obat bagi seluruh penyakit cinta (loneliness – orang yang kesepian, tetap merasa sepi meskipun ia berada ditengah keramaian). Selalu sertai pasangan kita, cari tau segala yang ia rasa dan pikirkan. Ikut sertalah dalam lembah perjuangan, maka komitmen kita akan terjaga. Cinta digambarkan dengan makna menyertai, hadir menemani, ikut ambil bagian seorang akan yang lain dengan menyelami pola pikir orang tersebut (empati). Tuhan mengasihi kita. Dia disebut Allah Immanuel. Tuhan ingin kita meyakini bahwa Dia senantiasa menyertai kita bagaimanapun keadaan kita. Kehadiran seseorang berperan penting dalam mempertahankan cinta dari sekarang hingga kekekalan kelak. Kehadiran mengarah pada keberadaan secara fisik. Tuhan tidak sekedar hadir, tapi Dia menyertai dan menemani (ikut ambil bagian dalam keberadaan kita). Penyertaan, bukan sekedar secara fisik, tapi penyertaan dalam proses, yang akan memberi kekuatan, sehingga orang tersebut dapat menang dan keluar dari permasalahannya. Roma 12:15 berkata, “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!”  Titik masalah dari penyakit cinta adalah hal yang penting bagi kita menjadi hal yang tidak penting bagi orang lain, sehingga kita merasa tidak diperhatikan. Miskomunikasi menyebabkan kita merasa tidak memiliki seseorang yang ‘seperasaan’ dengan kita. Belajarlah untuk masuk ke dunia orang yang kita cintai. Seandainya tidak ada orang yang hadir menyertai kita, namun kasih karunia Tuhan senantiasa menyertai kita, Tuhan tau cara berpikir kita, realita-realita dan pergumulan yang kita hadapi, dan Dia menemani kita).
  3. (Kejadian 22:1-4) Komitmen cinta kita pada Tuhan, membuat kita memutuskan untuk konsisten dan rela repot untuk mencintai dalam membangun hubungan, hingga mencapai kekekalan (Yohanes 14:21). Abraham menunjukkan komitmen cintanya pada Tuhan, ia mendengar dan melakukan segala yang Tuhan mau. Jika kita sudah berkomitmen untuk membangun cinta, maka miliki kerelaan untuk mau repot, karena tidak ada hubungan yang membuat kita tidak repot. Hadapilah kesulitan yang ada sebagai wujud konsistensi untuk mempertahankan komitmen. Cinta harus diukur dengan prinsip kebenaran. Kita tidak boleh membiarkan perubahan perasaan membunuh konsistensi komitmen cinta kita dalam sebuah hubungan.
  4. Asumsi adalah rayap bagi sebuah hubungan. Asumsi merupakan prasangka berdasarkan perkiraan yang tidak mengandung angka absolut didalamnya. Asumsi bersifat mencelakakan. Jika kita ingin mempertahankan hubungan sampai akhir, kita harus memerangi segala asumsi. Prinsip, nilai, dan asumsi mengendalikan kehidupan. Semua orang yang membangun kehidupannya berdasarkan asumsi saja, ia sedang mencelakakan dirinya sendiri. Lebih baik bagi kita membangun hubungan baik melalui komunikasi yang jelas dengan pasangan kita daripada kita hidup dengan perasaan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Asumsi menyebabkan seseorang kecewa, marah, dan meninggalkan Tuhan. Asumsi itu menjadi rayap yang mencelakakan jika tidak segera diputuskan. Orang yang terbiasa bermain asumsi kepada Tuhan menjadi akar untuk berasumsi pada orang lain. Cabutlah akarnya, maka kita juga akan berhenti menilai orang lain dengan asumsi. Nilailah orang berdasarkan prinsip kebenaran Firman Tuhan.
Ada dua asumsi besar manusia kepada Tuhan, diantaranya:
  • (Mazmur 37:1-4, 8-9) Mengapa Tuhan tidak adil? Orang yang tidak berpegang pada nilai kebenaran terlihat lebih mudah untuk meraih keberhasilan. Jangan kita marah kepada orang jahat, jangan kita iri hati kepada orang curang. Lihatlah akhir kehidupan mereka. Orang benar pada waktu-Nya akan mewarisi negeri dan Tuhan tau dan telah mengatur waktu-Nya.
  • Mencurigai bahwa Tuhan itu tidak nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s