Knowing God More Deeply

ps.Ronny Daud Simeon

“Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,” (Filipi 3:10) Sejak Paulus, penulis kitab Filipi, mengenal Kristus, maka kebanggaan yang telah ia dapatkan semuanya hanyalah sampah. Kata ‘mengenal Dia’ dalam bahasa aslinya adalah ‘Ginosko’, bukan mengenal Tuhan secara biasa-biasa, namun mengenal Tuhan secara intim (dekat). Salah satu contoh keintiman, pasangan suami istri harus mengenal pasangannya lebih dari sekedar mengenal biasa. Paulus mengatakan bahwa mengenal Tuhan harus lebih dari apapun yang ada dalam dunia ini. Pengenalan akan Tuhan dapat tercermin dalam hubungan pribadi dengan Dia. Jika kita hidup tidak intim dengan Dia, maka kita akan mengalami ketidakpuasan hidup, kekurangan kasih Tuhan yang luar biasa. Kata ‘ginosko’ dipakai Tuhan dalam Matius 7:21, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di Sorga.” Banyak orang sudah melakukan pekerjaan dengan nama Tuhan, namun Tuhan tidak mengenal mereka karena tidak ada keintiman dengan-Nya. Kita bukan sekedar mengenal Tuhan, namun harus mengenal Dia lebih dalam lagi, yaitu kuasa kebangkitan Tuhan.

Pengurapan akan diberikan pada kita jika kita mau menjalani proses demi proses kehidupan. Dalam Keluaran 30, minyak urapan dibuat menggunakan bahan khusus yang terbuat dari: Minyak mur, wangi namun rasanya pahit, artinya dalam hidup ada masa kita mengalami kebahagiaan, namun ada masa kita merasakan pahit. Kayu Teja, bahannya panas, artinya kita akan mengalami hal-hal yang menguji kesabaran, kita harus menguasai amarah. Tebu, tumbuh subur di tanah berlumpur, artinya tetap memuji Tuhan ditengah hal-hal sulit dan tidak diharapkan. Minyak zaitun, untuk menghasilkan minyak zaitun murni, harus digiling. Proses penggilingan sangat tidak enak, namun proses tersebut memurnikan kita dihadapan Tuhan, supaya kita terus menjadi serupa dengan-Nya. Ketika kita diurapi berarti ada proses dan tugas baru yang harus kita lakukan, namun proses membuat kita dewasa.

Seorang murid tidak lebih dari gurunya, namun murid dikatakan tamat apabila murid itu selesai dalam pelajarannya. Petrus menyangkal Yesus tiga kali, namun akhirnya ia mati disalib terbalik dengan tidak menyangkal Dia. Thomas pernah ragu pada Yesus, namun ia menjadi murid yang luar biasa, ia mati diseret kuda dan tubuhnya dibelah. Penganiayaan gereja adalah masalah waktu, kita harus siap dalam keadaan apapun juga. Mengenal Tuhan adalah proses kehidupan yang tidak mengenakan, namun jika kita mampu melalui proses ini, maka berkat otomatis datang pada kita, bahkan berkat akan terus mengejar kita. Proses diberikan supaya sesuai kehendak Tuhan, kita menjadi serupa dengan-Nya. Mengenal kuasa kebangkitan, dalam kata aslinya, ‘anastasis’, artinya perubahan yang nyata dalam kehidupan kita, yaitu dari hidup lama menuju hidup baru, dari hidup dalam dosa menuju hidup dalam kebenaran. Anastasis juga berarti melawan kesuam-suaman dalam hidup kita. Tuhan sangat memperhatikan jemaat yang suam-suam kuku, seperti jemaat di Laodikia. Jemaat yang suam-suam adalah mereka yang tidak mengenal Tuhan dengan baik. Sehebat apapun kita, jika kita suam-suam, maka akan dimuntahkan Tuhan. Lebih baik panas atau lebih baik dingin, jangan pernah suam-suam. Kiranya kita mengenal Tuhan lebih dalam lagi, supaya kita menjadi serupa dengan-Nya melalui proses yang Dia berikan pada kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s